worldandlife

Archive for June 2011

Danau Pristine di negara bagian Oregon, Amerika Serikat, terpaksa dikeringkan hanya karena seorang lelaki kencing di danau tersebut. Kendati para ahli mengatakan air kencing tidak akan berpengaruh terhadap kualitas air minum, namun pengeringan danau tetap dilakukan.

David Shaff, penanggungjawab biro air minum Portland, mengatakan danau harus segera dikeringkan. Bukan karena masalah kesehatan, namun karena ulah Joshua Seater, 21, membuat banyak orang jijik meminum air olahan dari danau itu.

“Saya tidak bisa membayangkan banyak orang yang berkata ‘saya bikin jus jeruk pakai air danau pagi ini’. Apakah kalian mau meminum air kencing? Banyak orang yang akan marah,” ujar Shaff dilansir dari laman The Telegraph, Minggu, 19 Juni 2011.

Pengeringan danau yang menampung delapan juta gallon air tersebut menghabiskan biaya sebesar US$36.000 atau sekitar Rp309 juta. Para ahli menilai tindakan ini terlalu berlebihan,

Mereka mengatakan bahwa kencing di danau tidak akan merusak kualitas air minum. Mereka mengatakan bahwa air kencing yang hanya seberat delapan ons akan dengan cepat terurai di dalam air.

Seater mengaku bersalah atas tindakan tersebut. Dia mengaku tidak tahu bahwa danau itu tempat penampungan air minum. “Saya melakukan tindakan bodoh. Saya tidak tahu kalau itu penampungan air minum, saya kira hanya saluran air.”

Ulahnya ini tidak sampai membuatnya di penjara, namun dia akan dikenakan denda.

Advertisements

Bangsa China telah minum teh selama 5.000 tahun. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung (diucapkan: ‘Shay-Nung’). Penemuan teh olehnya belum ditempatkan secara tepat dalam sejarah, yaitu pada tahun 2737 Sebelum Masehi.

Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap dari Camellia sinensis , tetapi legenda populer dapat memberi pengetahuan kepada kita.

Pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut. Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut. Kaisar menemukan air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.

Legenda dari India menghubungkan penemuan teh dengan biarawan Bodhidharma. Sang biarawan sangat kelelahan setelah mengakhiri pertapaannya selama 7 tahun. Dalam keputusasaan dia mengunyah beberapa daun yang tumbuh didekatnya, yang dengan serta-merta menyegarkannya kembali.

India saat ini merupakan penghasil teh terbesar di dunia, tetapi tidak ada catatan sejarah mengenai minum teh di India sebelum abad kesembilan belas. Eksperimen dari Bodhidharma mengunyah teh tidak pernah disebarkan kepada masyarakat umum pada saat itu.

Mitologi lain dari Jepang mengenai biarawan yang bertapa, Bodhidharma, menjelaskan bagaimana ia membuang kelopak matanya yang berat ke tanah karena merasa frustasi tidak mampu untuk tetap terjaga. Pohon teh tumbuh di mana ia membuang kelopak matanya. Dedaunan dari pohon yang baru tumbuh ini secara ajaib menyembuhkan kepenatannya.

Teh bukan asli dari Jepang, maka mitologi ini tidak memberikan penjelasan untuk keberadaanya secara mendadak di Jepang. Realitanya kurang beragam: di awal abad kesembilan, seorang biarawan dari Jepang yang pulang dari pengembaraan, bernama Dengyo Daishi membawa biji tanaman teh dari Tiongkok.

Metode pembuatan teh dengan panci terbuka yang diperkenalkan oleh Kaisar Shen Nung terbukti setelah sekian lama waktu berjalan. Hal tersebut membutuhkan waktu 4.000 tahun sebelum metode pembuatan teh yang kita kenal sekarang dikembangkan.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), bangsa Tiongkok mulai membuat teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat penuang anggur tradisional dari Tiongkok yang menggunakan penutup menjadi teko teh yang sempurna.

Pengertian “Teh”
‘Teh’ dengan segala variasinya di dunia dalam pengejaan dan pengucapan berasal dari sumber tunggal. ‘ Te ‘, berarti ‘teh’ dalam dialek China Amoy. Bahasa China nasional dari kata teh, ‘ cha ‘, juga menghasilkan beberapa turunan kata lain di dunia.

Teh masuk ke Eropa pada awal abad ketujuhbelas. Dibandingkan kelebihan teh dalam hal pengobatan, bangsa Eropa lebih memilih aroma kopi. Hanya diantara beberapa golongan kecil dari kaum bangsawan, yang mempopulerkan teh.

Masuknya Teh Ke Eropa
Pada awal abad ketujuh belas, pedagang dari bangsa Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropa. Pedagang Portugis mengirimkan dengan kapal dari pelabuhan China, Macau, sedangkan pedagang Belanda membawanya dari Indonesia ke Eropa.

Minuman baru yang datang bersamaan dengan muatan sutera dan rempah-rempah ini tidak mengalami sukses dalam sekejap. Bangsa Eropa mencicipi teh, tetapi mereka lebih memilih aroma kopi. Sedangkan pedagang Inggris menunggu hingga tahun 1652 sebelum akhirnya mulai memperdagangkan teh.

Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh. Teh yang mereka konsumsi datang melalui jalur darat dari Cina menggunakan kereta yang ditarik oleh unta. Ketika penggemar teh di Rusia meningkat, barisan unta yang membawa teh semakin memanjang.

Pada akhir abad kedelapan belas, beberapa ribu kereta yang ditarik unta, kira-kira 200-300 kereta pada satu saat menyeberangi perbatasan China. Jalur kereta api lintas Siberia menggantikan kereta yang ditarik unta, tetapi perjalanan romantik tersebut menyisakan ingatan yang popular atas campuran lembut teh hitam China yang terkenal sebagai Karavan Rusia.

Kemajuan Teh Melalui Kerajaan
Pada abad ketujuhbelas di Eropa, tak satupun yang menolong penjualan teh selain pelanggan dari keluarga kerajaan.

Acara minum teh menjadi istimewa pada tahun 1662, ketika Raja Charles II dari Inggris menikah dengan Catherine dari Braganza, seorang putri berkebangsaan Portugis dan seorang penggemar teh. Catherine mengawali tradisi minum teh dalam istana, dengan menggunakan mangkuk dan teko teh transparan buatan China – dan segera para anggota istana lain mengikuti caranya.

Pada saat itu harga teh dinilai mahal, namun sekarang sudah menjadi umum. Seketika teh menjadi mode dan eksklusif. Menurut sudut pandang kaum bangsawan, hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik.

Pada abad ke-17, di Eropa, teh merupakan produk praktis yang memiliki kegunaan besar. Kebanyakan air tidak layak diminum. Bagi yang ingin menghindari penyakit, pilihan yang ada tidak membangkitkan semangat: secangkir air mendidih, atau bir yang cukup kuat untuk membunuh bakteri.

Di Inggris dan beberapa negara, dimana bir adalah minuman yang umum untuk sarapan, teh menjadi altenatif lain yang disambut baik. Pada akhirnya teh menjadi pemuas dahaga yang hangat dan menyegarkan, penuh rasa, dan aman untuk diminum.

Pada abad ke-18, di keluarga kaya, minum teh merupakan acara dalam perayaan besar. Daun teh yang bernilai tinggi seringkali disimpan dalam kotak penyimpanan yang berkunci, dimana hanya ada satu kunci.

Sekali atau dua kali dalam seminggu, nyonya rumah akan membuka kuncinya dan menghidangkan teh untuk suguhan dalam keluarga, atau untuk memberi kesan pada tamu istimewa.

Teh disajikan dengan porselin yang memiliki mutu baik, yang menandakan tingkat kekayaan, selain untuk menambah arti dari perayaan. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi para wanita untuk memamerkan kulit mereka yang pucat dan struktur tulang yang lembut dibandingkan porselin China. Dua atribut ini merupakan tolok ukur kemurnian seorang wanita pada saat itu.

Kehidupan sosial pada awal pertengahan abad ke-18 beralih dari kebiasaan seperti kedai kopi digantikan dengan kebun teh. Kebun teh menjadi seperti surga: pohon-pohon di tepian jalan, lentera yang menerangi jalan setapak, musik, tarian, kembang api, dan makanan enak ditemani dengan secangkir teh yang nikmat.

Kebun teh tidak hanya tempat yang menyenangkan, tetapi juga merupakan tempat untuk pertemuan sosial. Di tempat eksotis ini, keluarga kerajaan dan rakyat biasa dapat berjalan bersama.

Konsumsi teh meningkat secara dramatis selama awal abad ke-19. Mode dan penurunan harga membangun pasar yang sulit dipenuhi oleh para pemasok barang. Untuk menerobos monopoli dari China, perdagangan teh beralih ke India untuk mengisi kesenjangan.

Masuknya “Teh” Ke India
Ketika konsumsi teh meningkat pada awal abad ke-19, Perusahaan India Timur mencari sumber persediaan baru. Sejak bangsa China memonopoli penamanan teh, solusinya adalah dengan menanam teh dimana-mana.

Percobaan pertama dengan bibit teh dari China dikelola di Assam, timur laut India. Tetapi eksperimen ini tidak berhasil, meskipun bibit yang sama tumbuh dengan baik di Darjeeling, India bagian utara.

Kemudian pada tahun 1820, para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan tumbuhan lokal yang belum teridentifikasi. Mereka mengirim contoh daun ke London untuk dianalisis. Contoh daun tersebut dengan segera dikenali sebagai teh – tanaman yang pada mulanya tidak dikenal di India – kemudian lahirlah industri teh India.

Air~~~
Pasti semuanya tau “opo iki Air?” “Apa karu’ ee itu Aer?” “The meaning of water”

Ya ya ya,
Air pentingggg baaangeeettt untuk kehidupan.
Kalo mau minum, cuci baju, mandi, nyiram tanaman, kita pasti pake AIR .
Ya kan?
Masa’ ada sih, yang minum gak pake air -_-”

Tapi, tahukah teman-teman, ciri-ciri air berkualitas?
Hayo deh! Yakin nggak sama air yang kita pakai sehari-hari? Yakin nggak kalo air di rumah kita udah berkualitas?
Nah, air berkualitas juga punya ciri-ciri lhooo…
Mau tau?
Mau mau mau?
Karena admin baik hati dan tidak sombong #lebay , jadi admin pengen sharing ke teman-teman CIRI-CIRI AIR BERKUALITAS

cekidot!

Ciri-ciri air berkualitas:
1. Tidak berbau, berwarna dan berasa.
Jadi, kalo air di rumah teman-teman warnanya jernih, berarti itu termasuk AIR BERKUALITAS DAN SEHAT 🙂

Nah, air yang sehat dan berkualitas juga tidak memiliki rasa. Can say like, rasanya tawar-tawar gitu.
Hmmm… Dulu waktu admin masih TK , admin juga sempet berkhayal, kayaknya kalo air yang rasa apel pasti lebih enak 😛
Sejak admin tau tentang ciri2 air berkualitas, admin ketawa sendiri ngebayangin khayalan admin dulu 🙂
Heheheheh… 😀

Air berkualitas juga tidak memiliki warna.
Can say like , “JERNIH” .

2. Tidak mengandung logam berat.
Nah, untuk membuktikkan kalo air tersebut cocok dengan kriteria ini, harus dilakukan penelitian dulu, guys 🙂

3. Tidak mengandung bakteri.
Untuk memusnahkan bakteri-bakteri di dalam air, harus dilakukan pengolahan dulu. Salah satu pengolahan sederhana yang biasa dilakukan di rumah-rumah, yaitu dengan cara merebus air.

Nah, itu dia ciri-ciri AIR BERKUALITAS.
Semoga bermanfaat, guys 🙂

Sampah?
Apa yang teman-teman rasakan saat mendengar kata ini?
Pasti jijik?
Iya kan?

Nah, admin punya usulan bagus nih?
Mau tau usulannya apa?
Mau mau mau?
Jreng jreng jrenngg…
Here we go… caranya, BIKIN SAMPAH JADI TEMAN KITA !!! #semangat45

Lho, gimana caranya?
Okay, let me explain.
Kita bisa bikin produk daur ulang dari sampah-sampah itu.
Masih belum terlalu “excited” ya?
Mmm… do you know?
Dengan daur ulang sampah kita bisa mendulang rupiah.
How?
Caranya, produk2 daur ulang itu kita jual 🙂 Bisa menghasilkan keuntungan kan? Selain itu, kita juga bisa membantu mengatasi masalah persampahan 🙂
Awesome 🙂

Sekarang, admin mau ngasih tau cara2 membuat produk2 daur ulang (Hurray). Check this out :

1. Bubur Koran
Eiitttsss, bubur koran gak bisa dimakan lho, guys 😀
Hasil dari bubur koran , contohnya :

Menarik ya 🙂
Nah, buat teman2 yg pengen mencoba bikin kerajinan dari bubur koran, tenang aja admin ngasih tau cara bikinnya, kok.

a. Potong kecil-kecil koran yang akan kita gunakan.

b. Rendam potongan koran tadi dengan air selama semalaman.

c. Blender kertas. Atau, remas2, remukkan potongan2 kertas tadi hingga membentuk adonan bubur koran (basah).

d. Peras adonan (mengeluarkan air di dalam adonan) dan campur2 adonan dengan lem kertas. Ratakan lem sampai ke dalam adonan.

e. Bentukklah adonan sesuka hati . Bisa dengan bantuan cetakan kue, kok.

f. Keringkan adonan. Pengeringan bisa dengan bantuan sinar matahari (1 – 2 hari) atau oven (3 jam)

g. Last but not least , hias hasil adonan sesuka hati 😀

Ohya, #sekedarinfo dari bubur koran ini, kita bisa bikin gantungan kunci, hiasan kulkas dan pin lhoo… 🙂